Diberdayakan oleh Blogger.

Bahagia bukan Berarti Tanpa Masalah

Seorang yang berbahagia bukan berarti hidupnya tanpa masalah, bahkan mungkin masalahnya lebih berat dari orang lain sekitarnya yang menderita. Lalu, mengapa ia bahagia, sedangkan yang lain menderita?
Terkadang kita tidak sadar bahwa bahagia atau derita adalah pilihan.
Ada orang-orang yang selalu menaruh kebahagiannya "nanti" di masa depan, ketika kesulitan-kesulitan terlewati. Namun, ada juga orang-orang yang memilih untuk bahagia dalam menjalani kesulitan-kesulitannya di masa kini.

Masalah dalam hidup selalu ada. Setiap orang pasti punya permasalahan yang berbeda. Sayangnya, kita sering tidak tersadar ketika melihat orang lain tersenyum, tertawa, dan optimis, kita berpikir orang itu tak pernah merasakan kesulitan yang membuat kita menderita. Hingga, kemudian kita mulai mencoba untuk menciptakan alasan-alasan yang masuk akal supaya orang tersebut juga merasakan penderitaan kita. "Hei kita menderita nih, kamu juga dong!"
Dulu, aku sering sinis ketika melihat orang lain bisa tertawa lepas. Bahagia dalam menjalani kehidupannya. Pikirku, dia pasti tidak mau memilih lika-liku kehidupan yang sulit. Pasti dipilihnya yang mudah-mudah saja sehingga ia tidak menderita sebagaimana aku menderita. Aku menempatkan penderitaan sebagai pendamping hidup dan sebagai syarat jika aku ingin maju, ingin menjadi lebih baik, dan lainnya.
Namun, sekarang ini, ketika aku melihat dari sudut pandang orang yang berbahagia, semua terasa berbeda. Pikiran sinisku dahulu, ternyata hanya pikiran orang-orang picik yang memilih untuk menderita tapi tidak rela menderita sendirian, sehingga menjustifikasi orang lain sebagai pemalas dan memilih yang nyaman-nyaman saja. Padahal, aku yang mencoba untuk nyaman dengan penderitaanlah yang pemalas (malas untuk menghadapi beban hidup yang lebih berat, dengan selalu memberikan excuse, ini aja aku udah berat menjalaninya).
Sekarang ini, masalah bukan berarti tak menghampiri kehidupanku, tapi kenapa aku sangat berbahagia menjalaninya? Kenapa bukan derita dan keluhan (lagi) seperti biasanya? Setiap hari yang muncul hanya rasa syukur dan syukur saja.... Maka, aku pun meyakini pernyataan bahwa bahagia ataupun derita adalah pilihan, karena hidup tak akan pernah lepas dari permalasahan....
Ketika memutuskan berhenti kerja, ada dua hal yang diprediksi akan terasa berbeda. Pertama, produktivitas yang menurun. Kedua, kondisi finansial. Produktivitas yang menurun jelas tidak terbukti. Karena ketika beberapa bulan sebelum berhenti kerja, produktivitasku toh sudah sangat menurun. Aktivitas di rumah yang beragam dan dijalankan dengan sepenuh hati ternyata lebih produktif daripada 8 jam di kantor tapi setengah hati, dimana dua jam kerja, satu jam istirahat, dan lebih dari lima jam dipakai untuk browsing nggak jelas.
Kondisi finansial keluarga tentu saja berpengaruh. Namun, sekali lagi, masalah ini pun tidak terasa terlalu mengganggu, karena aku masih optimis untuk bisa menjalaninya. Hanya saja, memang beberapa kenyamanan (yang rada boros) harus dipangkas, seperti kebiasaan jajan, belanja, jalan-jalan, dan lainnya. Alhamdulillah, dalam kondisi dipaksa harus hemat, aku jadi bisa menghargai rupiah demi rupiah yang didapat. Rasanya malah lebih membahagiakan. Kesulitan juga membawa berkah lainnya, yaitu kreativitas. Dulu ia redup, seiring dengan semakin nyamannya aku menerima gaji bulanan yang pasti. Namun, kini ia berkobar kembali... ^_^
Masalah dalam hidup akan selalu ada. Tapi apakah kita akan memilih untuk bahagia atau menderita?
Doakan aku bisa konsisten menjalani kebahagiaan ini..... Seandainya kelak aku terpuruk sekalipun, akan ada masa dimana aku bisa bangkit kembali. Semoga tulisan ini jadi pengingatku kelak di masa-masa yang jauh lebih sulit.....

sumber : http://avnikhairunnisa.multiply.com/journal/item/133/Bahagia_bukan_Berarti_Tanpa_Masalah

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Press Release Distribution